Skip to content
Biro Publikasi, Jurnal Ilmiah dan Informasi Digital
facebook
youtube
instagram
Biro Publikasi, Jurnal Ilmiah & Informasi Digital
Call Support 0822-6476-1314
Email Support [email protected]
Location Jl. Kolam No. 1 Medan Estate
  • Home
  • Tentang
    • Profil
    • VISI DAN MISI
    • FUNGSIONARIS & STAFF
    • STRUKTUR ORGANISASI
    • PROGRAM KERJA
  • Berita Kegiatan
  • Layanan & Informasi
    • ARSIP DIGITAL
    • Aplikasi
      • UMA
        • Penjaminan Mutu
        • Himpunan Aplikasi Online
        • Open Access Journal
        • Repositori UMA
        • Online Public Access Catalog
      • Unit
        • SINTA
        • LIPAN
        • SUSITAO
        • SWAMP-D
    • HELPDESK
  • Kerjasama

Bahasa Ilmiah yang Jernih: 12 Pola Kalimat yang Paling Sering Menurunkan Keterbacaan Naskah

Posted on August 25, 2025August 19, 2025 by admin
0

Abstrak

Keterbacaan (readability) merupakan faktor krusial dalam komunikasi ilmiah. Naskah dengan bahasa yang tidak jernih dapat menghambat pemahaman, menurunkan kualitas peer review, dan meningkatkan risiko desk reject. Artikel ini mengidentifikasi 12 pola kalimat yang paling sering menurunkan keterbacaan naskah ilmiah berbahasa Indonesia dan Inggris, serta memberikan panduan praktis untuk memperbaikinya. Dengan penerapan pola bahasa yang lebih jelas, penulis dapat meningkatkan kualitas komunikasi ilmiah dan peluang publikasi.

Kata kunci: bahasa ilmiah, keterbacaan, pola kalimat, publikasi, komunikasi akademik, penulisan naskah.


1. Pendahuluan

Bahasa ilmiah yang jelas dan ringkas mendukung efektivitas komunikasi akademik. Namun, banyak penulis, terutama pemula, menggunakan pola kalimat yang panjang, kompleks, atau ambigu, sehingga menurunkan keterbacaan.

Dampak bahasa yang tidak jernih:

  • Reviewer kesulitan memahami metodologi dan hasil.

  • Potensi miskomunikasi hasil penelitian.

  • Peningkatan risiko desk reject atau revisi panjang.

Tujuan artikel ini adalah:

  1. Mengidentifikasi pola kalimat yang menurunkan keterbacaan.

  2. Memberikan contoh dan strategi perbaikan.


2. Pola Kalimat yang Menurunkan Keterbacaan

Berikut 12 pola kalimat yang paling sering mengurangi keterbacaan:

  1. Kalimat terlalu panjang dan bertingkat

    • Masalah: Satu kalimat memuat lebih dari 40 kata, banyak klausa, membuat pembaca kehilangan fokus.

    • Perbaikan: Pecah menjadi dua atau lebih kalimat sederhana.

  2. Penggunaan kata pasif berlebihan

    • Masalah: “Penelitian ini dilakukan oleh tim…” vs “Tim melakukan penelitian ini…”

    • Perbaikan: Gunakan kata aktif untuk memperjelas subjek dan aksi.

  3. Klausa ganda tanpa pemisah jelas

    • Masalah: “…dan yang juga memiliki data yang relevan…”

    • Perbaikan: Gunakan tanda baca atau pecah kalimat.

  4. Pengulangan kata atau frasa

    • Masalah: “…metode yang digunakan dalam metode ini…”

    • Perbaikan: Gunakan sinonim atau singkatkan referensi.

  5. Kalimat nominalisasi berlebihan

    • Masalah: “…dilakukan evaluasi terhadap implementasi strategi…”

    • Perbaikan: Ubah nominalisasi menjadi kata kerja: “…tim mengevaluasi implementasi strategi…”

  6. Frasa ambigu

    • Masalah: “…hasil signifikan pada variabel tertentu…” (tidak jelas variabel mana)

    • Perbaikan: Sebutkan variabel dengan jelas.

  7. Penggunaan jargon tanpa definisi

    • Masalah: “…menggunakan model LSTM untuk prediksi time series…”

    • Perbaikan: Tambahkan definisi atau konteks.

  8. Penggunaan kata penghubung yang tidak tepat

    • Masalah: “Namun demikian, karena…”

    • Perbaikan: Pilih penghubung yang sesuai logika hubungan klausa.

  9. Struktur paralel yang tidak konsisten

    • Masalah: “…meningkatkan kualitas, mempermudah proses, dan proses dokumentasi…”

    • Perbaikan: Pastikan semua elemen paralel memiliki struktur sama.

  10. Penggunaan kata keterangan berlebihan

    • Masalah: “…sangat penting, benar-benar signifikan, dan sangat relevan…”

    • Perbaikan: Pilih kata yang paling tepat dan ringkas.

  11. Kalimat dengan banyak parenthesis atau catatan kaki

    • Masalah: “…hasil penelitian (yang dilakukan di tiga lokasi berbeda, pada bulan Januari, Februari, dan Maret) menunjukkan…”

    • Perbaikan: Pecah informasi tambahan menjadi kalimat baru.

  12. Kalimat dengan referensi menyatu di tengah klausa

    • Masalah: “…penelitian sebelumnya (Smith, 2020) menunjukkan bahwa…”

    • Perbaikan: Tempatkan referensi di akhir klausa untuk mempermudah membaca.


3. Strategi Perbaikan Bahasa Ilmiah

  1. Pecah kalimat panjang menjadi beberapa kalimat pendek.

  2. Gunakan kata kerja aktif untuk menjelaskan subjek dan tindakan.

  3. Hindari pengulangan frasa atau kata yang tidak perlu.

  4. Gunakan struktur paralel konsisten.

  5. Definisikan istilah teknis dan jargon.

  6. Batasi penggunaan kata keterangan berlebihan.

  7. Periksa tata bahasa dengan grammar checker atau NLP tools.


4. Diskusi

  • Implementasi strategi ini meningkatkan skor keterbacaan (misal Flesch Reading Ease untuk bahasa Inggris, atau Indeks Kemudahan Membaca Bahasa Indonesia).

  • Peningkatan keterbacaan berdampak positif pada kualitas peer review dan mempercepat proses editorial.

  • Sekretariat jurnal dan editor dapat menyediakan panduan bahasa jernih bagi penulis.


5. Kesimpulan

Bahasa ilmiah yang jernih sangat penting untuk meningkatkan keterbacaan naskah dan efektivitas komunikasi ilmiah. Dengan mengenali 12 pola kalimat yang sering menurunkan keterbacaan dan menerapkan strategi perbaikan, penulis dapat:

  • Menyampaikan ide lebih jelas.

  • Mengurangi revisi editorial.

  • Meningkatkan peluang diterima oleh jurnal.

Recent Posts

Recent Comments

No comments to show.
KAMPUS I
Jalan Kolam Nomor 1 Medan Estate / Jalan Gedung PBSI, Medan 20223
(061) 7360168 CALL CENTER : 0811-6013-888
[email protected]
KAMPUS II
Jalan Sei Serayu No. 70 A / Jalan Setia Budi No. 79 B, Medan 20112
(061) 42402994
[email protected]

STATISTIK PENGUNJUNG

  • 1
  • 103
  • 91
@Copyright 2025 PDAI | Universitas Medan Area